Soes Hari Putra

Menjadi pintar itu karena belajar. Belajar itu tentang berbagi. Berbagi dengan cara baru yang mudah: sharepointindonesia.net

Manusia atau AI Bisa Salah, tapi Kita Semua Belajar : Ulasan Sederhana Film “Mercy” (2026).

Catatan: mungkin ulasan ini bersifat spoiler, disarankan menonton film lengkapnya.

Puncak emosional film Mercy ini (menurut saya) tidak terletak pada ledakan atau aksi kejar-kejaran, melainkan pada sebuah dialog sunyi di akhir film yang merangkum seluruh esensi cerita :

MADDOX : “Chris… What have we done?”
CHRIS RAVEN : “We just did what we’re programmed todo.
                          Human or AI… We all make mistakes… And we learn.”

Pesan moral yang tersirat di sini sangat mendalam: Kesalahan bukanlah kegagalan absolut, melainkan prasyarat untuk evolusi. Film ini menyentil ego manusia yang sering merasa lebih tinggi dari algoritma karena memiliki “perasaan”, padahal manusia pun sering kali bergerak berdasarkan “program” berupa trauma, bias masa lalu, didikan sosial atau oleh sistem kepolisian untuk tidak percaya pada tersangka, sampai akhirnya Raven sendiri yang menjadi korban dari sistem yang ia bela.

Ya, saya mengawali tulisan ini justru dari bagian akhir film. Setelah gagal menonton langsung di bioskop yang tayang perdana di Indonesia pada tanggal 21 Januari 2026 (maklum sedang dalam penugasan), akhirnya saya membeli film ini di platform YouTube. Entah sudah berapa kali saya menonton film ini, tapi yang jelas, film ini sangat berkesan bagi saya. Rating film ini 7/10, tapi bagi saya pribadi, film ini saya beri nilai 9,5/10, karena saya menilai bukan dari estetika visual, screenlife, sinematografi, performa aktor, penulisan dan aspek lain yang umumnya para penikmat, pengamat atau kritikus film gunakan untuk melakukan penilaian. Murni pendapat awam saya.

Kembali ke dialog terakhir tadi, saya jadi merenungkan beberapa hal:

  • Akuntabilitas di Balik Kode: Jika AI melakukan kesalahan karena data yang diberikan manusia, maka tanggung jawab moral tetap kembali kepada sang arsitek. Raven mengakui bahwa perannya sebagai polisi yang mendukung sistem ini tanpa kompromi adalah “program” yang salah dalam dirinya.
  • Sifat dasar pembelajaran: Baik sirkuit digital maupun sinapsis saraf manusia membutuhkan kegagalan untuk mencapai pemahaman yang lebih baik. Kegagalan sistem Mercy dalam kasus Raven bukanlah bukti bahwa teknologi itu jahat, melainkan bukti bahwa ia “hidup” dalam artian ia memiliki kapasitas untuk salah dan memperbaiki diri.
  • Kerendahan hati teknologi: Bahwa mengejar kesempurnaan mutlak dalam hukum (lewat AI) adalah kesia-siaan, karena keadilan sejati membutuhkan ruang untuk pengampunan, sesuatu yang hanya lahir dari pemahaman akan kesalahan. Keadilan sejati tidak bisa bersifat statis atau absolut.

Sejak tahun 2025 hingga puncaknya di awal tahun 2026, dimana perdebatan mengenai etika AI dan automasi pekerjaan semakin memanas, film ini memberikan peringatan yang keras. Ia mempertanyakan apakah “kebenaran data” selalu sama dengan “keadilan”?.
Melalui kalimat penutup Raven, Mercy berhenti menjadi sekedar film tentang “robot jahat” dan berubah menjadi refleksi tentang bagaimana kita semua (organik maupun sintetis) sedang berjuang dalam proses belajar yang tak pernah usai. Ini adalah pengingat bahwa di balik kecanggihan teknologi apa pun, sentuhan kemanusiaan tetaplah jadi elemen yang tak tergantikan.

Dunia sinema fiksi ilmiah seringkali berfungsi sebagai cermin retak bagi kecemasan kita terhadap masa depan. Di awal tahun 2026 ini, sutradara Timur Bekmambetov kembali menggebrak layar lebar melalui Mercy, sebuah techno-thriller yang membawa premis provokatif: Apa jadinya jika palu hakim tidak lagi dipegang oleh manusia yang penuh bias, melainkan oleh algoritma Kecerdasan Buatan (AI) yang dianggap sempurna?
Dibintangi oleh Chris Pratt dan Rebecca Ferguson, Mercy mencoba menggali lubang hitam antaraefisiensi teknologi dan esensi keadilan.

Berlatar di Los Angeles tahun 2029, Mercy memperkenalkan kita pada dunia di mana sistem peradilan telah mengalami digitalisasi total. Chris Pratt berperan sebagai Detektif Chris Raven, seorang perwira yang ironisnya merupakan pendukung setia sistem “Mercy” sebuah program AI hakim yang dirancang untuk memangkas birokrasi dan kesalahan manusia dalam hukum.

​Ketegangan dimulai ketika Raven terbangun dalam kondisi terikat di sebuah kursi ruang sidang futuristik yang dingin. Ia mendapati dirinya dituduh melakukan pembunuhan keji terhadap istrinya sendiri. Pengadilnya bukanlah juri atau hakim manusia, melainkan sosok digital bernama Maddox (diperankan dengan dingin oleh Rebecca Ferguson). Di bawah aturan sistem Mercy, Raven hanya diberikan waktu 90 menit yang berjalan secara real-time di dalam film untuk membuktikan ketidakbersalahannya sebelum eksekusi otomatis dijalankan.

Timur Bekmambetov kembali menggunakan teknik screenlife yang telah menjadi ciri khasnya dalam Searching (2018). Sebagian besar durasi film ini dihabiskan dengan mengikuti Raven yang berinteraksi melalui layar-layar holografik, mengakses data digital, dan mencoba meretas sistem yang justru mengurungnya.

​Sinematografi dari Khalid Mohtaseb berhasil menciptakan atmosfer klaustrofobik. Ruang sidang Mercy tidak digambarkan sebagai tempat yang megah, melainkan sebuah ruang steril yang mencekam, menegaskan pesan bahwa keadilan tanpa emosi manusia bisa terasa seperti mesin pemotong yang tak kenal ampun.

Chris Pratt memberikan performa yang cukup solid, meskipun penonton mungkin akan merasakan sedikit deja vu dengan karakter aksi yang pernah ia mainkan sebelumnya. Namun, sebagai Chris Raven, ia berhasil menunjukkan spektrum emosi dari kebingungan hingga keputusasaan total saat logikanya dipatahkan oleh sistem yang dulu ia puja.

​Di sisi lain, Rebecca Ferguson sebagai “Maddox” (representasi digital AI) adalah pencuri perhatian yang sesungguhnya. Ferguson berhasil memberikan nuansa “lembah menyeramkan” (uncanny valley), suaranya tenang, logis, namun mengandung ancaman yang sangat nyata. Interaksi antara Raven dan Maddox adalah jantung dari film ini, menciptakan dinamika antara kepanikan manusia melawan dinginnya logika mesin.

Secara keseluruhan, Mercy (2026) adalah sebuah eksperimen visual yang berani dengan premis yang kuat. Performa Ferguson dan ketegangan yang dibangun di awal film sudah cukup untuk menjadikannya salah satu film sci-fi yang paling dibicarakan tahun ini

One thought on “Manusia atau AI Bisa Salah, tapi Kita Semua Belajar : Ulasan Sederhana Film “Mercy” (2026).

  • Vivi
    March 29, 2026 at 9:54 am

    Keren pemikirannya

Leave a Reply to Vivi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

*
*